Monday, May 25, 2020

Hilang

Menjalani hubungan selama 5 tahun, aku sampai dititik ini.

Titik tidak berujung sebuah pelaminan

Rasanya sulit untuk memaafkan
Mengingat banyak kekecewaan
Sudah ku taruh rasa percaya pada akhirnya sirna

Setiap dikecewakan aku bangun lagi rasa percaya dari awal. Alurnya tetap sama "dikecewakan" lagi

Allah membuka mataku, memperlihatkan ketidakberesan itu. Aku diperlihatkan oleh banyak nama perempuan dimasa lalu yang kau cari disetiap kali membuat akun baru. Nama itu kau cari di kolom pencarian, kau cari tau tentangnya. Tidak sekali, dua kali.

Awalnya aku kira sebuah kekhilafan
Tapi ternyata bukan, melainkan kesengajaan
Mungkin ada rasa yang belum tertuntaskan
Atau sebuah penasaran yang belum terpecahkan

Banyak akun palsu dibuat hanya untuk mencari tau tentangnya. Hingga akhirnya aku berpikir "tidakkah kau bersyukur telah memiliki aku?".

Sempat aku tanya alasan mengapa cari tau tentangnya. Jawaban yang didapat tidak lebih dari keyakinan untuk pergi saat itu. Hanya ada kata maaf, tak lama ketahuan lagi.

Begitu terus alurnya.

Sifat tempramental yang melekat pada dirinya
Kekerasan fisik dan verbal yang masih membekas dikepalaku. Masih teringat jelas gimana sikap kasar dan ucapan kotor itu terlontar.

Sungguh, kenapa aku bisa sekuat dan keras kepala mempertahankan hubungan seperti ini? Bahkan setiap meminta kejelasan, aku tidak mendapat jawaban.

Kini, sudah tidak ada lagi alasan untuk bertahan.

Aku berada dititik,
Hilang rasa
Hilang peduli
Hilang kepercayaan

Aku berhenti.

Wednesday, May 13, 2020

Kejujuran

Ketika sebuah kepercayaan dalam hubungan terdapat kebohongan. Maka sebenernya hubungan tersebut tidak saling terbuka. Padahal tujuan dari menjalani sebuah hubungan adalah saling mengenal. Untuk saling mengenal harus ada keterbukaan dan kejujuran.

Ibarat tanaman harus diberi pupuk sama hal nya dengan hubungan. Harus memiliki pondasi yang kuat dan dijaga dengan baik.

Sekecil kebohongan ditutupi akhirnya tercium juga.
Kebohongan sekecil apapun akan menimbulkan kebohongan yang lain.
Ketika seseorang terbiasa berbohong akan menjadi sebuah kebiasaan.

Berbohong kepada pasangan, orang lain, bahkan membohongi dirinya sendiri.
Apakah bohong itu sudah menjadi tradisi?
Apakah seseorang berbohong tidak lelah terus bersembunyi?

Padahal ada seseorang yang lebih peka terhadap kebohongan.
Ya, sekecil apapun kamu berbohong. Sebenernya saya tau, namun diam.

Tidak perlu menyimpan dendam, biarkan karma menjalankan tugasnya. Sebab yang pernah melukai akan terluka pada waktunya.

Percayalah sesakit-sakitnya kejujuran itu lebih baik diucapkan dari mulut sendiri. Dan semanis-manisnya kebohongan akan menjadi bumerang.

Tuesday, May 5, 2020

Bagaimana

Bagaimana cara kalian mengikhlaskan sesuatu?
Bagaimana cara kalian bersabar akan sesuatu?
Dan bagaimana cara kalian menemukan jalan keluar atas sesuatu?

Kita memiliki jalan keluarnya masing-masing
Atas setiap permasalahan
Apalagi yang berakhir tragis dan terluka

Lalu seberapa banyak hati yang kalian taruh dalam setiap permasalahan?
Seberapa banyak emosi yang dikeluarkan setiap permasalahan?
Dan seberapa keras usaha kalian untuk membalikan pada titik semula?

Dari setiap yakin, hikmah selalu mengetuk pintu
Dari setiap percaya, hidayah pasti akan datang

Permasalahan kita satu,
Akankah kita sadar akan Kuasa-Nya?
Apakah kita tau makna dari setiap permasalahan yang diberi-Nya?

Dunia ini indah jika kita mau mengikuti setiap prosesnya.

Tuesday, April 28, 2020

Optimis

Jangan pernah lelah untuk terus mencoba melakukan sesuatu
Jangan banyak mengeluh walau terkadang terlalu sendu
Selalu ada jalan yang ditempuh walau terkadang menyesatkanmu

Walau terkadang ragu ditengah perjalanan
Begitu banyak perdebatan
Keinginan yang harus dikorbankan
Ego yang harus ditahan

Jangan pernah takut untuk melangkah
Jangan pernah bimbang dalam memilih
Jangan pernah terlena untuk setiap pencapaian

Monday, April 27, 2020

Kisah

Beberapa cerita tidak bisa diulang
Bahkan beberapa rasa hilang tanpa terduga
Jangan tanya apa, kenapa, dan bagaimana
Sebab tidak semua hal harus kamu tau jawabannya

Yang dulu terlalu dekat justru kini berjarak
Yang dulu begitu diinginkan justru ingin dienyahkan
Dulu sering bertukar kabar
Sekarang bahkan seperti tidak mengenal

Dulu sebuah sapaan tampak sederhana
Sekarang lebih rumit dari satu tambah dua

Sefasih itukah lepas dari genggaman serta ingatan?

Rasa

Mungkin mudah hanya berucap, dulu saling bertegur sapa
Bahkan banyak moment dan cerita yang sudah dilewati
Terkadang terasa menyenangkan
Melewati hari-hari tanpa beban
Saling bertukar cerita sepulang kerja
Memikiran jalan keluar setiap permasalahan
Saling memberi pendapat jika dibutuhkan
Nyaman dengan keadaan

Disamping suka, duka melengkapi
Duka yang mungkin tidak berkepanjangan
Karena waktu akan terus berjalan
Perpisahan bukan sebuah akhir
Tangisi jika itu perlu
Mengerti hidup terus berjalan
Seperti pepatah bilang, hidup butuh pengorbanan

Sunday, March 22, 2020

Insecure

Pada kesempatan kali ini, aku mau sharing sedikit bagaimana cara mengatasi rasa insecure. Apa sih itu insecure? Yaitu rasa kurang merasa aman, kurang percaya diri dan kecemasan berlebihan terhadap sesuatu. Rasa insecure bisa terjadi pada siapapun, sering kali usia diatas 20 tahun, karena diusia tersebut kita mulai berkembang. Ada usia 20 tahun sudah sarjana, memiliki pekerjaan yang bagus, gaji besar, sudah jadi PNS, bahkan melihat teman sudah banyak yang menikah dan mempunyai anak yang lucu.

Kok bisa sih jadi insecure? Dunia digital sekarang sudah canggih, kita bisa melihat keadaan orang lain hanya melalui Sosial Media. Sering kali membandingkan diri kita dengan pencapaian orang lain. Terbesit dalam pikiran “kok enak ya jadi dia”? tempat kerja yang nyaman, gajinya besar”, “kok enak ya dia sudah menikah punya anak lucu”, “kok enak dia udah sarjana, sedangkan skripsi ku masih belum selesai”. Apapun kalimatnya kalian pernah merasa cemas saat melihat hidup orang lain secara fisik atau finansial.

Kita terlalu fokus pada orang lain, menganggap hidup orang lain lebih enak. Padahal dibalik Story Instagram yang ditampilkan pasti memiliki masalah, namun tidak dibagikan pada khalayak ramai. Disini bukan salah Sosial Media, tapi bagaimana sikap kita menyikapinya. Kita hanya memiliki dua pilihan: bangkit dan percaya diri atau terus menganggap dunia orang lain lebih baik.

Membuat tulisan ini bukan berarti aku tidak mengalami, bahkan aku pun tidak terlepas dari rasa itu. Hati dan pikiran jadi gak tenang. Malam yang seharusnya bisa tidur nyenyak malah dihantui rasa Overthinking. Cemas akan masa depan, cemas terhadap karir dan kuliah, dan lainnya.

Lalu bagaimana cara mengatasi rasa insecure?

1.      Mengontrol pikiran dan diri kita terhadap apa yang kita lihat.
Karna kita ga bisa mengontrol orang lain sesuai mau kita, tapi kita bisa mengontrol otak, mata, telinga kita terhadap reaksi tersebut.

2.      Bergabung dengan teman yang sekiranya membuat kita menjadi diri sendiri.
Berada dilingkungan yang mendukung dan pola pikir sejalan akan jauh lebih nyaman.
Kita ga perlu jadi sosok lain, cukup jadi diri sendiri.

3.      Terus melatih kemampuan diri sesuai bakat.
Kembangkan apa yang kita bisa apapun itu, akademik atau non akademik. Selama itu positif lakukan aja.

4.      Kalau kamu sudah ditahap darurat, kamu bisa cerita ke Psikolog.
Ada kok layanan gratis namanya ibunda.id lewat Line. Sebelumnya kalian harus daftar, memilih tanggal dan jam yang masih kosong. Tanggal disini gak bisa dadakan, buat janji dulu 1-2 minggu baru setelah itu bisa cerita selama 1 jam.

5.      Perbanyak ibadah.
Dari segala usaha, kita masih punya Tuhan. Kalau sedih dan gak tau lari kemana. Yap, ambil wudhu dan sujud udah paling tepat.

Untuk kamu yang sedang difase ini, terus semangat. Selama kamu bisa kontrol ini adalah hal normal. Jangan sering menyalahkan diri sendiri. Gak perlu cemas berlebihan, ini hanya fase mendewasakan.

Kalau kamu bingung cara selesaikan masalah ini, coba deh liat kemarin pasti kamu punya masalah yang sama bahkan jauh lebih berat. Tapi bisa dilewati kan? Kita terlalu panik terhadap sesuatu yang belum terjadi.

Psikolog terbaik ialah dirimu sendiri, bukan orang lain. Yang pantas kamu sebut rumah, ya dirimu sendiri. Karna rumah itu menetap bukan sekedar singgah.

Selamat berjuang!

Wa'alaikumsalam